BANDA ACEH – Duta Literasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, M. Rizwan dan Nadia Aulia, menyiapkan empat program unggulan untuk memperkuat budaya literasi di kalangan mahasiswa. Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan minat baca, tetapi juga mendorong kemampuan berdiskusi, berbahasa, dan berpikir kritis.
Keduanya resmi dinobatkan sebagai Duta Literasi UIN Ar-Raniry 2026 dalam kegiatan yang berlangsung di UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry, Kamis (29/10/2026). Penobatan dilakukan oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, didampingi Kepala Perpustakaan, Suherman.
M. Rizwan merupakan mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Sementara itu, Nadia Aulia berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK).
Dalam kegiatan tersebut, Saila Rizkia dan Nayla Desky turut memperoleh penghargaan sebagai Wakil Duta Literasi. Perpustakaan juga memberikan apresiasi kepada pemustaka dan tenaga kependidikan teraktif.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, menegaskan bahwa literasi merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun kehidupan akademik yang berkualitas. Karena itu, Duta Literasi diharapkan tidak hanya menjadi representasi mahasiswa, tetapi juga mampu mengajak sivitas akademika lebih dekat dengan buku, pengetahuan, dan perpustakaan.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Rizwan dan Nadia merancang empat program unggulan yang diarahkan untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang pembelajaran yang lebih aktif dan menarik.
Salah satu program yang disiapkan adalah Focus Group Discussion (FGD) Literasi. Kegiatan ini akan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan, membahas berbagai persoalan, serta melatih kemampuan analisis dan berpikir kritis.
Program berikutnya berupa kegiatan belajar bahasa di perpustakaan, khususnya untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat memanfaatkan lingkungan perpustakaan sebagai ruang belajar bersama yang mendukung pengembangan kompetensi akademik.
Selain itu, kedua Duta Literasi tersebut juga ingin mendorong mahasiswa agar lebih cermat dalam menyaring dan memahami informasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kemampuan mengevaluasi informasi menjadi bagian penting dari budaya literasi agar mahasiswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu menilai kebenaran dan memahami konteksnya.
Gerakan literasi yang dirancang juga akan diperluas ke luar lingkungan kampus. Rizwan dan Nadia berencana menjangkau sekolah serta komunitas masyarakat agar kegiatan literasi dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak kalangan.
Melalui program-program tersebut, Duta Literasi UIN Ar-Raniry diharapkan mampu memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pengetahuan, diskusi, dan pengembangan kreativitas. Upaya ini sekaligus menjadi dorongan untuk membangun mahasiswa yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, mengolah informasi, dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat.






